Mengetuk Pintu Langit di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah
AKSINEWS.COM – Kemeriahan spiritual menyelimuti Desa Meranti, Kecamatan Renah Pamenang, Kabupaten Merangin, Jambi pada Sabtu malam, 9 Mei 2026. Lapangan sepak bola desa setempat menjadi saksi berkumpulnya ribuan jamaah Pengamal Sholawat Wahidiyah dalam acara Mujahadah Nisfussanah Provinsi Jambi yang berlangsung khidmat mulai pukul 20.00 hingga 22.30 WIB.
Arus kedatangan peserta sudah terlihat sejak pagi hari hingga menjelang petang. Ribuan jamaah tidak hanya datang dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Jambi, tetapi juga melibatkan rombongan dari provinsi tetangga seperti Riau, Bengkulu, hingga Sumatera Selatan (Palembang).
Suasana haru dan penuh ketakziman memuncak usai ibadah sholat Magrib, di mana para peserta berbaris rapi untuk memohon doa restu dan bersalaman langsung dengan Hadrotul Mukarrom Kanjeng Romo Kiyai Abdul Majid Ali Fikri RA.
Kehadiran sosok Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo tersebut didampingi oleh rombongan dari Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri, Jawa Timur yang datang menggunakan tiga unit bus. Kehadirannya memberikan suntikan semangat spiritual bagi seluruh peserta yang hadir.
Pimpinan tertinggi Wahidiyah menekankan pentingnya pembersihan hati dari penyakit batin. Selama dalam hati masih bersarang sifat ujub, riya, dan penyakit hati lainnya, maka seseorang akan sangat sulit untuk mencapai derajat ikhlas dan ma’rifat billah. Begitu pula dengan berbagai macam nafsu yang harus terus diwaspadai.
Terkait kualitas ibadah, diuraikan tiga tingkatan ikhlas, yaitu Iklasul ‘Abidin atau ikhlasnya orang awam, Iklasul Muhibbin bagi mereka yang mencintai, dan puncaknya adalah Iklasul ‘Arifin bagi orang-orang yang telah ma’rifat.
Karunia terbesar bagi seorang hamba adalah ketika ia diberi kemudahan dalam menjalankan ibadah serta mampu bersikap ridho atas segala ketetapan atau Qodar-Nya Allah.
Setitik amal hati jauh lebih berharga daripada seribu amal lahiriyah. Oleh karena itu, jamaah didorong untuk melatih kekhusyukan agar mampu mencapai Dzauq (rasa spiritual). Salah satu metode yang ditekankan adalah melatih Istighro’ secara konsisten, baik sebelum bermujahadah maupun dalam aktivitas sehari-hari.
Pesan mendalam juga disampaikan bahwa mujahadah yang telah dilakukan harus terus dievaluasi atau “dimujahadahi lagi” agar kualitasnya meningkat, serta mengingatkan bahwa indikasi hati yang keras adalah hati yang sulit menangisi dosa-dosa di hadapan Allah SWT.
Menutup rangkaian fatwa amanat dan doa restunya, Kanjeng Romo Kiyai Abdul Majid Ali Fikri RA mengajak seluruh peserta serta masyarakat yang hadir untuk melaksanakan Mujahadah Sholawat Wahidiyah. Amalan ini diyakini memiliki fadhilah atau faedah besar untuk menjernihkan hati sekaligus sebagai sarana Ma’rifat Billah (mengenal Allah).
Suasana khidmat menyelimuti lokasi acara saat lantunan sholawat mulai menggema. Ribuan jemaah yang hadir tampak larut dalam kekhusyukan. Tak sedikit dari mereka yang tak kuasa hingga meneteskan air mata selama prosesi mujahadah dan doa bersama berlangsung.
Momen spiritual ini menjadi puncak sekaligus penutup rangkaian acara, meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta yang berharap mendapatkan keberkahan dan ketenangan batin melalui wasilah Sholawat Wahidiyah.
Setelah rangkaian acara rampung, pada tengah malam, Kanjeng Romo Kiyai Abdul Majid Ali Fikri RA bersama rombongan dari Pondok Pesantren Kedunglo segera bertolak menuju Palembang untuk melanjutkan rangkaian Safari Mujahadah Nisfussanah berikutnya. (red)

