Cahaya Sanad dari Afrika Barat Menembus Jantung Kota Jambi
AKSINEWS.COM – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Nurul Iman di Jalan Soemantri Brodjonegoro, Sabtu (27/12). Di bawah kubah masjid tersebut, sebuah momen spiritual penting berlangsung, pemberian syahadah dan ijazah Surah Al-Fatihah bersanad.
Bukan sekadar prosesi seremonial, momen ini adalah puncak dari perjalanan panjang para pejuang Al-Qur’an di Jambi untuk memastikan bacaan mereka tersambung hingga ke Rasulullah SAW.
Kegiatan yang bertajuk “Dauroh Al-Qur’an Al-Fatihah Bersanad” ini sebenarnya telah dimulai sejak awal Desember. Sebanyak 158 peserta, terdiri dari 46 guru ngaji laki-laki dan 112 guru ngaji perempuan, berkumpul dari berbagai penjuru, mulai dari Kota Jambi, Kabupaten Merangin, hingga Batanghari.
Mereka meninggalkan rutinitas sejenak demi satu tujuan, meningkatkan kualitas ilmu. Pada fase awal di Masjid Ar-Roudah Telanaipura (6-7/12), para peserta digembleng oleh Ustadz Ari Ramadhanu mengenai dasar-dasar Makhrojul Huruf dan sifat-sifat huruf. Ilmu ini adalah fondasi agar setiap ayat yang keluar dari lisan terdengar tartil dan benar.
Puncak dauroh ini menghadirkan sosok istimewa, Syaikh Abu Bakar Sadique Jaloh Al Hafizh. Ulama asal Guinea, Afrika Barat, yang juga alumni Al-Azhar Kairo ini, memberikan rangkuman materi dari kitab-kitab rujukan seperti At-Tabyan karya Imam An-Nawawi dan Riyadatus Sholihin.
Kehadiran Syaikh Abu Bakar memberikan warna tersendiri dengan penjelasannya dan menekankan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan pemberi syafaat di hari kiamat kelak.
“Istiqomahlah dalam belajar dan membaca Al-Qur’an. Jangan berhenti pada lisan, tadaburi isinya, dan yang terpenting, amalkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Syaikh Abu Bakar.
Ustadz Bowo, selaku Ketua Panitia Penyelenggara, mengungkapkan bahwa inisiatif ini lahir dari kepedulian terhadap peran vital guru ngaji di masyarakat. Menurutnya, banyak guru ngaji yang memiliki semangat luar biasa namun jarang mendapatkan akses untuk melakukan upgrade kapasitas ilmu.
“Harapan kami, program seperti ini terus bergulir. Guru-guru ngaji kita layak mendapatkan apresiasi dan bekal ilmu yang mumpuni agar kualitas bacaan generasi muda kita semakin terjaga,” tuturnya penuh harap.
Kini, dengan syahadah di tangan, para guru ngaji tersebut membawa pulang lebih dari sekadar sertifikat. Mereka membawa amanah sanad, tanggung jawab moral, dan semangat baru untuk terus menyebarkan cahaya Al-Qur’an di pelosok Jambi.
red

