Orde Omnivora, Ketika Dalang Kehilangan Wewayangan
AKSINEWS.COM – Kiai Lurah Semar Badranaya, sang pamong sejati, menatap langit. Bukan lagi langit yang sama seperti saat ia menemani Bima atau Arjuna. Langit ini, katanya, penuh dengan awan gelap bernama Orde Omnivora.
O, anakku, Gareng, Petruk, dan Nala! Lihatlah, zaman telah berganti lakon. Dulu, kita mengenal Orde Baru, lalu Orde Reformasi. Keduanya punya jurus dan watak yang jelas. Yang satu kukuh laksana Gunung Jamurdipa, yang satu lagi lincah seperti kera Hanoman.
Namun, kini, kita dihadapkan pada Orde Omnivora. Inilah sistem yang tak lagi punya sangkan paraning dumadi (asal-usul kejadian) yang tunggal. Ia tak hanya makan nasi (kebijakan lama) atau lauk (kebijakan baru), melainkan segala yang ada di meja persidangan, di ladang rakyat, bahkan di dalam dapur (nurani) para pemimpin.
Watak Orde Omnivora ini sungguh mirip dengan Batara Kala saat kelaparan, tidak membeda-bedakan makanan yang menjadi santapan.
Dulu, ada garis batas tegas antara Politik dan Bisnis. Kini, garis itu hilang. Hukum (Punakawan penjaga keadilan) dan Regulasi (Petruk pengatur tata krama) diperlakukan seperti tumbal (persembahan). Kepentingan korporasi besar (Kurawa Modern) dengan mudah menelan aspirasi warga (Pandawa Kecil).
Dalam panggung wewayangan yang baru ini, setiap suara sumbang yang mengkritik (Dorna) atau yang menawarkan jalan lain (Kresna) segera diserap. Mereka tak dimatikan, melainkan dijinakkan atau diakomodasi ke dalam lingkar kekuasaan. Oposisi kini ibarat bumbu penyedap, hanya untuk memperkaya rasa, bukan untuk mengubah resep utama.
Kebijakan dibuat bukan untuk jangka panjang, melainkan untuk mempercepat panen sesaat. Hutan (Babad Alas) dihabiskan untuk proyek kilat. Utang (Tali Lilitan Cakra) dijadikan solusi instan. Sang Omnivora ini tak peduli esok hari anak cucu akan makan apa, asalkan perutnya kenyang hari ini.
Semar Bersabda: “Jika kekuasaan adalah seekor naga, maka Orde Omnivora ini adalah naga yang tak hanya menelan, tetapi juga mencerna tanpa meninggalkan sisa. Tidak ada tulang kebenaran yang tersisa untuk dijadikan monumen sejarah.”
Lakon kini dimainkan di atas panggung yang disebut Media Sosial. Para pejabat dan politisi kini menjadi Dalang sekaligus Wayang di layar digital. Mereka mengendalikan opini dan citra diri. Semua tampak sempurna, bersih, dan merakyat.
Wayang (isu) yang disajikan bukan lagi kisah perjuangan moral, melainkan konten yang menarik perhatian. Isu-isu serius (Pandawa melawan Kurawa) dibungkus dengan gimmick (lelucon Goro-goro) agar mudah viral dan melupakan esensi.
Rakyat (Penonton) dibiarkan larut dalam tontonan yang penuh sandiwara. Mereka lupa, bahwa di balik layar yang gemerlap, Gunungan (simbol keseimbangan) sedang terbakar.
Inilah puncak kesuksesan Orde Omnivora. Ia berhasil menyerap kesadaran kritis rakyat, menjadikannya energi untuk terus berkuasa.
Lalu, apa obat penawar bagi Orde Omnivora? Apakah kita harus menunggu datangnya Satria Piningit?
Tidak. Kita tak perlu menunggu Jaka Tarub dari kahyangan. Tosan Aji (pusaka) yang kita butuhkan adalah Kritik yang Berani dan Keterlibatan yang Nyata.
Kita harus kembali ke jurus Petruk yang jujur, menertawakan kelemahan diri dan menunjuk tanpa takut pada keserakahan. Nala Gareng harus kembali menjadi penyambung lidah rakyat, mengingatkan bahwa dana (aturan dasar) harus dipatuhi. Dan Semar, sebagai Pamong (penjaga moral), harus terus mendesak agar kekuasaan, sekuat apa pun ia, harus memiliki hati nurani dan batas kekenyangan.
Jika Sang Omnivora ini tak segera berhenti makan, maka jangan heran jika panggung wewayangan kita akan ambruk. Seluruh tata negara akan lenyap, menyisakan kekosongan yang hanya diisi oleh suara perut yang lapar, milik sang penguasa itu sendiri.
Semoga kita tak kehilangan wewayangan.
Salam Kampret! Mari jadi manusia memilih yang bukan disajikan.
Oleh: Kampret Sobo (Pemerhati Wayang Kontemporer)

