EDITORIAL: Kartini di Balik Alif Ba Ta
AKSINEWS.COM – Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia merayakan Hari Kartini sebagai simbol kebangkitan dan emansipasi wanita. Jika kita menilik ke teras rumah sederhana di sudut-sudut kampung, mushola kecil, hingga di komplek perumahan dalam kota, ada sosok Kartini masa kini yang sering luput dari sorotan namun memiliki peran yang sangat fundamental. Mereka adalah para guru ngaji wanita.
Mereka adalah pejuang literasi agama yang dengan penuh kesabaran menuntun jari-jemari kecil anak-anak mengenal huruf hijaiyah. Perjuangan mereka dimulai dari hal yang paling dasar, yakni memastikan generasi penerus tidak buta aksara Al-Quran, sebuah misi yang memerlukan keteguhan hati luar biasa.
Mendidik anak kecil mengenal agama bukanlah perkara mudah. Di sinilah letak kehebatan para guru ngaji wanita yang berperan ganda sebagai pengajar sekaligus ibu kedua. Mengajari anak usia dini memerlukan seni tersendiri.
Mereka harus kreatif menggunakan pendekatan personal agar anak-anak betah berlama-lama belajar membedakan pelafalan huruf dan memperbaiki setiap bunyi harakat, karena mereka sadar bahwa pondasi yang kokoh di masa kecil akan menentukan kualitas ibadah sang anak di masa depan.
Semangat Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan agar bisa mendidik anak-anak dengan lebih baik mengalir deras dalam nadi para guru ngaji ini.
Mereka membuktikan bahwa wanita memiliki peran sentral dalam menjaga pilar moral di tingkat akar rumput. Banyak dari mereka yang mengajar dengan bayaran seikhlasnya, bahkan tanpa imbalan materi sama sekali, murni demi mencerdaskan bangsa secara spiritual.
Di tengah gempuran era digital, tantangan guru ngaji wanita semakin berat. Mereka harus bersaing dengan daya tarik gawai yang seringkali membuat anak-anak kehilangan fokus. Namun, sentuhan kasih sayang, kesabaran, dan interaksi langsung yang diberikan para guru ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh aplikasi mengaji mana pun.
Peringatan Hari Kartini tahun ini seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk memberikan apresiasi lebih kepada para guru ngaji wanita. Mereka adalah pahlawan yang bekerja dalam senyap, memastikan bahwa cahaya iman tetap menyala di hati generasi mendatang.
Tanpa perjuangan mereka, mungkin banyak dari kita yang akan kehilangan identitas spiritual sejak dini. Mari kita maknai semangat Kartini dengan menghormati mereka yang telah berjasa meletakkan dasar Alif, Ba, dan Ta dalam hidup kita. (red)

