Bima Arya Bedah Buku ‘Babad Alas’ di Universitas Jambi
AKSINEWS.COM – Wakil Menteri Dalam Negeri, Dr. Bima Arya Sugiarto, bedah buku karyanya yang bertajuk Babad Alas di Auditorium UNIFAC Universitas Jambi pada Rabu, 15 April 2026. Acara yang dimulai pukul 11.00 WIB ini berlangsung hangat dengan dihadiri oleh jajaran petinggi daerah, mulai dari Gubernur, Walikota, Rektor Universitas Jambi, hingga Wakil Walikota Jambi yang bertindak langsung sebagai moderator.
Secara harfiah, Babad Alas berarti membuka rimba belantara. Bagi Bima Arya, buku ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan ruang refleksi mendalam mengenai perjalanan kepemimpinannya selama satu dekade di Kota Bogor. Ia mengisahkan bagaimana perjuangannya dimulai pada Pilkada 2013, di mana ia meraih kemenangan dengan selisih tipis. Sejak saat itu, ia menyadari bahwa memimpin sebuah kota memerlukan kombinasi kuat antara ideologi, strategi, dan taktik.
Salah satu poin menarik yang dibahas dalam seminar ini adalah ketegasan Bima Arya dalam memegang nilai (value) di tengah tekanan. Ia menceritakan pengalamannya saat pengacara kondang Hotman Paris meminta perizinan untuk membuka cabang Holywings di Bogor.
Bima Arya tidak menolak secara mentah-mentah, namun ia memberikan syarat ketat sesuai nilai yang diyakininya, kadar alkohol harus di bawah 5%. Syarat yang tidak bisa ditawar tersebut akhirnya membuat pihak pengelola memilih untuk menutup operasionalnya.
Menurut Bima, seorang pemimpin akan terus diuji sejauh mana ia konsisten memegang nilai yang dimilikinya, terutama saat dihadapkan pada ambang batas toleransi dalam pengambilan keputusan. ”Ideologi tidak ada artinya jika tidak punya strategi. Pemimpin adalah agen harapan,” tegas Bima Arya di hadapan para mahasiswa dan tamu undangan.
Bima Arya membagikan rumusnya dalam merawat tiga lapisan pendukung. Pertama, kelompok akar rumput yang ia dekati dengan cara yang sangat personal, seperti bersedia menjadi saksi nikah hingga menghadiri tasyakuran warga. Kedua, kelompok kelas menengah yang didominasi anak muda dan ibu-ibu. Di sini, ia aktif hadir dalam kegiatan kampus hingga mengikuti agenda sosial seperti arisan dan senam aerobik. Ketiga adalah dukungan elit, di mana koordinasi dengan sesama pejabat dan menteri tetap dijaga secara profesional.
Bima Arya juga menyoroti pentingnya regenerasi melalui Projek 100. Dalam program ini, ia mengumpulkan 100 anak muda untuk mendampingi 100 hari terakhir masa jabatannya sebagai Walikota Bogor. Para pemuda ini diberikan akses eksklusif untuk melihat langsung proses birokrasi, bahkan diizinkan ikut dalam rapat-rapat rahasia bersama jajaran Kepala Dinas.
Sebagai penutup sesi yang inspiratif tersebut, Bima Arya meninggalkan pesan mendalam bagi para calon pemimpin masa depan di Universitas Jambi. ”Biasakan terbentur dengan perbedaan, maka Anda akan bagus dalam memimpin,” pungkasnya.
Pesan tersebut menekankan bahwa tantangan dan gesekan pendapat adalah guru terbaik dalam membentuk karakter seorang pemimpin yang tangguh. (red)

