Negosiasi Damai AS-Iran Berujung Buntu Usai Retorika Keras Trump
AKSINEWS.COM – Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman serangan keras di tengah berlangsungnya negosiasi damai di Swiss pada Minggu, 21 Juni 2026. Melalui unggahannya di Truth Social, Trump mendesak Iran untuk menghentikan dukungan terhadap proksi Hizbullah di Lebanon. Ia menegaskan bahwa jika Iran tidak memenuhi tuntutan tersebut, Amerika Serikat tidak akan ragu untuk melancarkan serangan yang jauh lebih intens dibandingkan aksi militer yang dilakukan pada pekan sebelumnya.
Trump memberikan peringatan keras terkait keamanan Selat Hormuz. Ia memperingatkan bahwa jika Iran mencoba menutup jalur vital tersebut, konsekuensinya akan sangat fatal bagi kedaulatan negara mereka. Trump bahkan sesumbar bahwa Amerika Serikat siap mengambil alih kendali atas Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi 20 persen pasokan minyak dunia, dan akan memberlakukan bea masuk jika kesepakatan tidak segera dicapai.
Retorika keras tersebut berlanjut dalam wawancara dengan Fox News, di mana Trump menanggapi sikap Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang bersikeras mempertahankan hak pengayaan uranium. Trump memperingatkan Pezeshkian untuk menjaga sikap dan ucapannya, seraya melontarkan ancaman untuk mengambil alih seluruh kendali negara tersebut. Sikap konfrontatif ini dinilai sangat kontras dengan misi diplomatik yang dibawa oleh Wakil Presiden JD Vance, yang sebelumnya menyatakan ingin memulai lembaran baru dalam hubungan dengan rakyat Iran.
Pernyataan tersebut sangat berdampak terhadap proses diplomasi yang tengah berlangsung di Hotel Burgenstock, Swiss. Delegasi Iran dilaporkan marah dan memilih untuk melakukan aksi walk out dari negosiasi empat pihak yang melibatkan Amerika Serikat, Qatar, dan Pakistan sebagai mediator. Sumber yang mengetahui jalannya perundingan menyebut momen ini sebagai hari yang sangat buruk bagi upaya perdamaian, mengingat ancaman tersebut secara langsung merusak kemajuan dialog yang sedang diupayakan oleh pihak-pihak terkait.
Sebagai respons atas ancaman tersebut, kepala delegasi Iran, Mohammed Ghalibaf, memberikan tanggapan melalui media sosial X. Ia memperingatkan Amerika Serikat untuk berhati-hati dalam memilih kata-kata dan menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran saat ini dalam kondisi siaga penuh. Ghalibaf menyatakan kesiapan Iran untuk memberikan tanggapan secara langsung dengan cara yang berbeda, yang menandai semakin jauhnya jarak antara kedua negara dalam mencapai kata sepakat. (red)

