Aliansi BEM Bersatu Soroti Independensi Gerakan Mahasiswa
AKSINEWS.COM – Aliansi mahasiswa yang menamakan diri BEM Bersatu secara resmi menyatakan sikap tegas untuk menolak segala bentuk gerakan mahasiswa yang ditunggangi oleh kepentingan politik praktis. Dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, pada Selasa (16/6/2026), aliansi ini menekankan pentingnya menjaga independensi gerakan mahasiswa agar tidak menjadi alat bagi kelompok atau aktor politik tertentu dalam mencapai tujuan elektoral maupun kekuasaan.
Salah satu sorotan utama dalam pernyataan tersebut tertuju pada sosok Tiyo Ardianto, yang disebut sebagai salah satu pimpinan aksi mahasiswa. Perwakilan BEM Bersatu sekaligus Ketua BEM Hukum UIC, Rahmat Djimbula, mengungkapkan dugaan adanya kedekatan antara Tiyo dengan jaringan politik tertentu. Rahmat menyebutkan bahwa mobil Fortuner yang digunakan Tiyo diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, sosok yang disebut sebagai adik dari Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso, yang merupakan besan dari Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa.
Dugaan keterkaitan tersebut semakin diperkuat dengan adanya kehadiran politikus PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, di tengah kerumunan massa aksi. Selain itu, pihak BEM Bersatu juga menyoroti kehadiran Tiyo dalam Dialog Nasional Kebangsaan di Bandung yang dijadwalkan pada 18 Juni 2026. Tiyo disebut bakal hadir bersama sejumlah tokoh seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dr Tifa, di mana Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso juga tercatat hadir dalam acara yang sama.
BEM Bersatu merumuskan tiga poin tuntutan utama sebagai sikap resmi mereka. Pertama, mereka mendesak sterilisasi gerakan mahasiswa dari segala bentuk intervensi, pendanaan, maupun fasilitas politik praktis. Kedua, aliansi ini menyatakan dukungannya terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis, dengan catatan penting agar pemerintah melakukan perbaikan tata kelola demi memastikan program tersebut tepat sasaran dan akuntabel. Ketiga, mereka berkomitmen mendukung pengusutan tuntas kasus korupsi tanpa pandang bulu dan mengajak mahasiswa Indonesia untuk terus mengawal proses hukum secara kritis serta objektif.
Pernyataan sikap ini didukung oleh sejumlah pimpinan organisasi mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta, diantaranya adalah Wildan Ricky dari BEM FH UNISIA, Muhammad Yani dari BEM FH UIJ, Ardi Zulkifly dari BEM FISIP UNAS, Ardiansyah dari BEM Institut Al-Aqidah, Ahmad Ghazy dari BEM Psikologi UNJ, serta Alfi dari BEM FEB UNPAM. Turut hadir pula Rahmat Djimbula dari BEM Hukum UIC, Dicky dari BEM F.IPS Unindra, Ahmad dari BEM Fakultas Teknik Universitas BSI, dan Rezky Anandar dari BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen Administrasi Institut STIAMI. (red)

