Raksasa Maskapai Global Mulai Pangkas Jadwal Terbang
AKSINEWS.COM – Kabar kurang sedap datang bagi Anda yang sudah menyusun rencana liburan. Impian berburu tiket murah tampaknya harus tertunda, karena industri penerbangan global sedang dihantam badai biaya operasional. Biang keroknya tak lain adalah situasi geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas, memicu lonjakan harga minyak dunia yang mustahil lagi dibendung oleh pihak maskapai.
Seperti diberitakan Independent pada Kamis (14/5), Direktur Jenderal IATA, Willie Walsh, terang-terangan menyebut bahwa maskapai sudah angkat tangan dalam menanggung beban biaya yang membengkak ini. Artinya, satu-satunya jalan agar perusahaan tetap bernapas adalah dengan membebankan biaya tersebut ke harga tiket konsumen. Kalaupun ada diskon di sana-sini, itu hanya taktik sesaat untuk memancing minat penumpang. Selebihnya, bersiaplah menghadapi tren harga tiket yang terus meroket.
Krisis ini dipicu oleh aksi Iran yang memperketat jalur kapal tanker di Selat Hormuz, menyebabkan harga avtur global melonjak hingga lebih dari dua kali lipat. Efek dominonya langsung terasa pada laporan keuangan para raksasa udara. IAG, induk perusahaan British Airways, bahkan sudah gigit jari karena prediksi pengeluaran bahan bakar mereka jebol hingga Rp34,5 triliun dari rencana awal.
Menyiasati situasi kritis menjelang musim liburan musim panas, pemerintah Inggris mengambil langkah darurat yang cukup ekstrem. Selain buru-buru mengimpor bahan bakar tambahan dari Amerika Serikat dan menggenjot kilang domestik, mereka merilis aturan taktis: maskapai diizinkan menggabungkan penumpang dari beberapa jadwal berbeda ke dalam satu pesawat demi menghemat avtur.
Sepanjang Mei 2026, lembaga analisis Cirium mencatat ratusan jadwal penerbangan telah dibatalkan secara sepihak oleh maskapai untuk menyesuaikan stok bahan bakar yang ada. Secara regulasi internasional, hal ini sah-sah saja dilakukan tanpa kompensasi ganti rugi, asalkan diumumkan dua minggu sebelum keberangkatan.
Meski kondisinya terdengar genting, pemerintah dan petinggi maskapai meminta masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Sistem kontrak berjangka (hedging) yang dibeli jauh-jauh hari diklaim mampu menjadi bantalan darurat, sehingga pasokan avtur tidak akan sampai lumpuh total. Saat ini, otoritas terkait terus menggodok jadwal penerbangan yang lebih realistis agar tidak ada drama pembatalan mendadak di menit-menit terakhir yang merusak momen liburan Anda. (red)

