Perang Teluk Menyeret dan Mengguncang Fondasi Ekonomi UEA
AKSINEWS.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini mengguncang fondasi ekonomi Uni Emirat Arab (UEA), salah satu negara paling kaya dan stabil di kawasan Teluk. Selama puluhan tahun, UEA sukses memasarkan diri sebagai pusat bisnis global yang aman di tengah pusaran konflik regional. Namun saat ini, negara federasi tersebut justru terseret langsung ke dalam perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Selama perang berlangsung, UEA dilaporkan menjadi negara yang paling banyak menerima serangan rudal dan drone dari Iran dibandingkan negara lain di kawasan. Serangan yang masif, ditambah dengan kendali ketat Iran atas Selat Hormuz, membuat ekspor minyak mentah dan gas alam UEA anjlok hingga lebih dari separuh. Sektor pariwisata dan konferensi internasional yang menjadi urat nadi ekonomi Dubai pun mulai terpukul keras.
Meskipun terletak tepat di seberang Teluk Persia dari Iran, UEA berusaha menampilkan kesan tetap tenang di permukaan. Namun di balik layar, pemerintah mulai mengambil langkah strategis yang besar, termasuk mempercepat rencana pembangunan jalur pipa baru untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz. Selain itu, UEA juga mengambil keputusan berani untuk keluar dari kartel minyak OPEC agar dapat meningkatkan produksi energi dalam jangka panjang, sebuah langkah yang sebenarnya sudah dipertimbangkan jauh sebelum perang pecah.
Walaupun perang ini bermula dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, posisi UEA kini semakin terjerat dalam konflik. Serangan drone terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah baru-baru ini memperlihatkan bahwa risiko keamanan tetap sangat tinggi, meskipun gencatan senjata yang rapuh tengah berlangsung.
Merespons ancaman tersebut, Kementerian Luar Negeri UEA menegaskan tidak akan tinggal diam dan tidak akan mentoleransi ancaman apa pun terhadap keamanan serta kedaulatan negara dalam keadaan apa pun. UEA menyatakan memiliki hak penuh, sah, berdaulat, diplomatik, dan militer untuk merespons setiap tindakan permusuhan.
Secara politik, pengambilan keputusan di UEA sangat didominasi oleh penguasa Abu Dhabi, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, dan keluarganya. Dalam beberapa dekade terakhir, keluarga penguasa Abu Dhabi dikenal menjalankan kebijakan luar negeri yang jauh lebih agresif. UEA tercatat pernah terlibat dalam perang Yaman melawan pemberontak Houthi yang didukung Iran, membantu membawa Presiden Mesir Abdel-Fattah el-Sissi berkuasa pada 2013, serta kerap dituduh mengirim senjata ke wilayah konflik seperti Sudan dan Libya.
Sheikh Mohammed sendiri jarang berbicara di depan publik. Namun, pernyataannya saat mengunjungi korban serangan Iran di sebuah rumah sakit beberapa waktu lalu kini kembali ramai dikutip. Ia menegaskan bahwa jangan sampai ada pihak yang tertipu oleh penampilan luar UEA yang indah dan menarik, karena UEA memiliki kulit yang tebal serta daging yang pahit, dan bukan merupakan mangsa yang mudah bagi musuh-musuhnya.
Saat ini, penutupan Selat Hormuz oleh Iran membuat kemampuan ekspor energi UEA terganggu besar. Negara tersebut kini hanya mampu mengekspor sekitar 1,8 juta barel minyak per hari melalui jalur pipa menuju Fujairah, kota pelabuhan di Teluk Oman yang berada di luar Selat Hormuz. Untuk mengatasinya, pemerintah terus memacu pembangunan pipa kedua guna menggandakan kapasitas ekspor tersebut.
Dampak buruk perang juga menghantam sektor pariwisata dan konferensi internasional yang menyumbang lebih dari 12 persen total ekonomi negara. Sejak perang pecah pada akhir Februari, puluhan acara internasional di UEA terpaksa ditunda atau dibatalkan karena persoalan asuransi dan tingginya risiko keamanan, meskipun pemerintah tidak mengeluarkan larangan resmi.
Di sektor penerbangan dan perhotelan, situasi tetap mencekam. Maskapai nasional Emirates sempat mengumumkan jadwal penerbangan dari Bandara Internasional Dubai kembali normal, namun di hari yang sama Iran kembali meluncurkan serangan rudal dan drone yang memicu alarm di ponsel warga serta kecemasan di komunitas bisnis. Bandara Dubai bahkan dilaporkan mulai membangun struktur pelindung di sekitar tangki bahan bakar pesawat.
Sementara itu, sejumlah hotel mewah di Dubai, termasuk hotel ikonik Burj Al Arab, terpaksa ditutup sementara untuk renovasi akibat merosotnya tingkat hunian. Analis memperkirakan tingkat okupansi hotel bisa jatuh hingga menyisakan 10 persen pada kuartal Juni, turun drastis dari angka 80 persen sebelum perang. Kondisi sepi ini diprediksi akan bertahan sepanjang tahun karena wisatawan internasional masih ragu untuk datang.
Lembaga analisis keuangan menilai keterbukan Dubai membuatnya sangat rentan terhadap guncangan logistik dan kepercayaan, sementara kekuatan aset energi Abu Dhabi menjadi benteng pertahanan federasi untuk menyerap pukulan ekonomi tersebut.
Meski didera krisis, Dubai tetap berupaya menunjukkan eksistensinya kepada dunia. Pameran seni tahunan Art Dubai tetap digelar dalam versi yang lebih kecil, meskipun nuansa perang terasa sangat kuat di ruang pameran. Para seniman yang hadir memanfaatkan momentum ini untuk merefleksikan perebutan sumber daya ekonomi dan komoditas di tengah konflik, sekaligus menegaskan pesan bahwa kehidupan dan kebudayaan tidak boleh berhenti meskipun dunia sedang dilanda perang. (red)

