Ini Fakta dan Risiko di Balik Tren Menghilangkan Bulu dengan Laser
AKSINEWS.COM – Dunia kecantikan terus berkembang, dan kini banyak orang mulai beralih dari cara konvensional seperti mencukur atau waxing ke prosedur laser untuk menghilangkan bulu tubuh. Meski metode tradisional jauh lebih murah, hasilnya sering kali hanya bertahan sesaat. Sebaliknya, prosedur laser mulai diminati karena terbukti memberikan hasil yang jauh lebih tahan lama.
Prosedur laser bekerja dengan cara memancarkan sinar berkekuatan tinggi langsung ke arah folikel atau akar rambut. Energi dari sinar ini diserap oleh melanin atau zat warna pada akar rambut, yang kemudian diubah menjadi energi panas untuk merusak folikel tersebut. Untuk mendapatkan hasil yang sempurna di area yang diinginkan, seseorang biasanya memerlukan 2 hingga 6 kali sesi prosedur dengan jeda beberapa minggu antar sesinya.
Penting untuk dipahami bahwa meskipun sangat efektif, laser tidak menghilangkan bulu secara permanen selamanya. Bulu masih mungkin tumbuh kembali dalam hitungan bulan atau tahun, namun dengan karakteristik yang berbeda. Bulu yang tumbuh biasanya akan jauh lebih sedikit, lebih tipis, dan warnanya tidak segelap sebelumnya. Jika bulu mulai muncul kembali, tindakan laser pun dapat diulang untuk menjaga kehalusan kulit.
Walaupun prosedur ini dikategorikan aman karena tidak melalui tindakan bedah atau invasif, penggunaan laser tetap menyimpan beberapa risiko efek samping yang perlu diwaspadai. Efek yang paling umum adalah iritasi kulit, yang ditandai dengan kemerahan, pembengkakan, atau rasa nyeri di area tindakan. Gejala ini biasanya bersifat ringan dan akan mereda dengan sendirinya dalam beberapa jam.
Selain iritasi, laser juga berpotensi menyebabkan perubahan warna kulit. Orang dengan kulit terang mungkin mendapati kulitnya menjadi lebih gelap, sementara pemilik kulit gelap bisa mengalami hal sebaliknya. Meski umumnya bersifat sementara, dalam kasus yang sangat jarang, perubahan warna ini bisa menjadi permanen.
Risiko lainnya menyangkut perubahan tekstur kulit, seperti munculnya lepuhan, cairan, atau jaringan parut. Bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit herpes simpleks, prosedur laser juga diketahui dapat memicu kekambuhan virus tersebut.
Terakhir, meski sangat jarang terjadi, terdapat risiko pertumbuhan bulu secara berlebihan pasca tindakan, terutama pada individu dengan tipe kulit yang lebih gelap. Oleh karena itu, konsultasi dengan tenaga ahli sangat disarankan sebelum memutuskan untuk menjalani prosedur ini. (red)
Sumber:
https://www.alodokter.com/serba-serbi-menghilangkan-bulu-dengan-laser

