Teknologi AI Bisa Diagnosa Kanker
AKSINEWS.COM – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini semakin berperan penting dalam dunia medis, khususnya dalam deteksi dini penyakit kanker.
Berbagai sistem berbasis AI telah dikembangkan untuk membantu dokter menganalisis citra medis seperti mammogram, CT-scan, hingga hasil biopsi dengan tingkat akurasi yang diklaim lebih cepat dan efisien dibandingkan metode konvensional.
Di balik keunggulan tersebut, muncul pertanyaan besar: Seberapa akurat dan aman teknologi ini digunakan dalam menentukan diagnosis yang menyangkut nyawa manusia?
Dilansir RRI.co.id, menurut laporan terbaru dari Journal of Medical Imaging and Health Informatics, algoritma AI mampu mengenali pola kanker payudara hingga 92% akurat, sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata dokter radiologi yang berada di angka 88%.
Beberapa rumah sakit besar di Eropa dan Asia bahkan telah mengintegrasikan sistem AI ke dalam proses skrining pasien.
Teknologi ini bekerja dengan menganalisis ribuan data citra medis untuk mengenali kelainan yang sulit dideteksi mata manusia.
Meski menjanjikan, para ahli menilai masih ada potensi risiko dalam penggunaan AI di bidang medis.
Kesalahan data input, bias algoritma, serta kurangnya validasi klinis bisa menimbulkan hasil diagnosis yang keliru.
AI diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti dokter. Keputusan akhir tetap memerlukan interpretasi dan pertimbangan klinis dari tenaga medis.
Di Indonesia, penggunaan AI untuk diagnosa medis masih dalam tahap pengembangan dan pengujian terbatas.
Kementerian Kesehatan tengah merumuskan pedoman etik dan regulasi agar teknologi ini dapat digunakan secara aman dan bertanggung jawab.
Regulasi tersebut mencakup aspek privasi data pasien, keamanan sistem digital, serta tanggung jawab hukum bila terjadi kesalahan diagnosis akibat sistem AI.
Teknologi AI memang membuka babak baru dalam upaya deteksi dini kanker, menawarkan kecepatan dan presisi yang belum pernah ada sebelumnya.
Namun, keandalan dan keamanan tetap menjadi fokus utama sebelum penerapannya dilakukan secara luas.
Kolaborasi antara pengembang teknologi, tenaga medis, dan pemerintah diharapkan mampu memastikan bahwa inovasi ini tidak hanya canggih, tetapi juga aman, etis, dan berpihak pada keselamatan pasien.
red

