Pohon Kesabaran di Sudut Pengorbanan
AKSINEWS.COM – Pagi merangkak naik, membawa kabut tipis sisa embun malam. Bapak Sastro, tidak seperti biasanya, duduk termenung di sebuah bangku kayu di pojok kebunnya, dekat sumur tua. Pandangannya kosong, menatap pada sebuah pohon yang entah apa jenisnya.
Pohon itu ramping, namun akarnya menonjol keluar, melilit kuat di tanah berbatu. Pohon itu tidak berbuah lebat seperti mangga, tidak juga tinggi menjulang seperti pohon kelapa. Ia hanya ada. Tegar, tapi tampak biasa saja.
“Pohon,” sapa Bapak Sastro pelan, suaranya sedikit bergetar oleh kenangan yang baru saja ia buka. “Kau lihat foto itu? Anakku, Sulaiman. Tiga hari lalu dia wisuda. Sarjana Teknik. Sudah resmi, ya?”
Tidak ada jawaban yang keras, hanya desah angin yang menyapu dedaunan. Namun, Bapak Sastro tahu, percakapan batin ini telah dimulai.
“Aku ingat sekali, Pohon,” lanjut Bapak Sastro, tangannya menggenggam erat tongkat kayu. “Waktu Sulaiman diterima di universitas itu, rasanya seperti mendaki gunung dengan bekal seadanya. Uang masuknya, biaya hidupnya, buku-bukunya… Semuanya terasa berat, berkali-kali lipat dari apa yang pernah kurasakan.”
Pohon Kesabaran mengeluarkan bunyi kretek kecil dari salah satu cabangnya yang kering, seolah itu adalah simbol perjuangan yang tak terhindarkan.
“Aku tahu, Bapak,” bisik pohon itu, suaranya kering dan berpasir, seperti tanah yang selalu ia pijak. “Manusia itu diciptakan untuk berjuang. Dan seorang bapak, diberi tugas mulia untuk berjuang di atas perjuangan anak-anaknya. Kau menjual tanah warisan di belakang rumah, bukan?”
Bapak Sastro menunduk. Matanya berkaca-kaca. “Ya. Itu satu-satunya harta yang kupunya. Sempat hatiku meronta, Pohon. Rasanya seperti mencabut akar dari hidupku sendiri. Tanah itu tempatku bermain dulu. Tapi, aku selalu ingat, kau pernah bilang, hidup itu hanya soal Pasrah dan Menjalani.”
“Pasrah bukan berarti menyerah, Bapak,” jawab Pohon Kesabaran dengan nada yang lebih tegas, seperti gema dari khotbah Jumat. “Pasrah itu adalah upaya terbaik, diserahkan kepada Yang Maha Mengatur. Kau telah berkorban, Bapak, dan pengorbanan itu adalah wujud iman tertinggi. Kau mencabut akar materi demi menumbuhkan akar ilmu pada anakmu.”
Bapak Sastro menghela napas panjang. “Kadang aku berpikir, apa ridho Tuhan ada di sana? Apakah pengorbananku ini tidak berlebihan? Aku sampai harus menguras tenaga, jadi buruh serabutan di usia senja. Tubuhku remuk, Pohon.”
Pohon itu kini menggoyangkan rantingnya, seolah menari pelan, memberikan perlindungan dari panas matahari yang mulai meninggi.
“Lihatlah aku, Bapak. Akarku ini melilit batu. Setiap kali badai datang, ia berusaha mencabutku. Setiap kali kemarau panjang, batuku menghalangi air. Tapi, apakah aku mengeluh? Tidak. Aku terus melilit, terus merayap, mencari celah, mencari rezeki dari bumi.”
“Itulah hikmahnya, Bapak. Kau telah menjadi pohon itu. Engkau merelakan dirimu remuk demi Sulaiman bisa menjulang. Engkau menanggung perih agar ia bisa berdiri tegak. Bukankah ajaran agama selalu menyebut, pengorbanan untuk ilmu adalah salah satu pintu menuju kemuliaan?”
Bapak Sastro mengangkat kepala. Sebuah senyum pahit namun tulus tersungging di bibirnya.
“Kau benar, Pohon. Aku hanya melihat kepedihan dari perjuangan itu, sampai lupa melihat keindahan dari hasilnya. Hari itu, waktu Sulaiman memakai toganya, wajahnya bersinar, ia mencium tanganku. Di mata anakku, aku tidak lagi melihat si buruh tua yang remuk. Aku melihat kebanggaan,” kata Bapak Sastro, matanya kini memancarkan cahaya semangat yang baru.
Pohon Kesabaran kembali tenang, hening.
“Kini tugasmu selesai, Bapak,” bisik Pohon itu perlahan. “Kau telah menanam benih, merawatnya dengan peluh, dan kini ia berbuah. Istirahatlah. Sulaiman akan menjadi pohon baru yang kuat, yang akan menaungi Bapak di hari tua. Ia adalah saksi dari keikhlasan dan janji dari barokah yang tak pernah ingkar.”
Bapak Sastro berdiri. Ia menyentuh batang pohon itu, merasakan kekasaran dan keteguhan yang sama seperti ia rasakan dalam dirinya sendiri selama bertahun-tahun berjuang.
“Terima kasih, Pohon. Kau adalah pengingat bahwa di balik kesulitan, selalu ada kekuatan yang disematkan oleh Yang Maha Kuasa.”
Bapak Sastro melangkah menjauh, perasaannya kini lapang. Ia telah berkorban, ia telah berjuang, dan Yang Maha Adil telah membayarnya tunai dengan sebuah gelar sarjana dan kebahagiaan hati.
Pohon itu, di sudut pekarangan, kembali berdiri sunyi, menjadi monumen hidup dari sebuah Perjuangan Suci seorang Bapak.
Kampret Sobo (Pemerhati Wayang Kontemporer)

