Parade Logistik di Atas Air Mata
AKSINEWS.COM – Di tengah kepulan duka dan jerit minta tolong para korban bencana yang masih basah di berbagai pelosok negeri, Jakarta International Equestrian Park justru riuh oleh deru mesin ambulans kinclong dan kepulan asap dapur umum yang masih berbau cat baru.
Jumat (19/12/2025), PDI Perjuangan menggelar hajatan bertajuk “Seminar Mitigasi Bencana”. Sebuah langkah yang, meski terlihat mulia di atas kertas, terasa hambar dan terlambat bagi mereka yang sudah terlanjur kehilangan harta serta nyawa.
Seminar di Tengah Krisis, Retorika atau Solusi?
Saat BMKG sudah berulang kali “berteriak” soal 14 segmen megathrust dan ratusan sesar aktif sejak jauh hari, publik justru disuguhi pemandangan elite politik yang baru sibuk berdiskusi di ruangan sejuk.
Megawati Soekarnoputri, sang Ketua Umum, memang menekankan pentingnya kapasitas pengetahuan bagi Baguna (Badan Penanggulangan Bencana). Namun, pertanyaan besarnya, mengapa baru sekarang?
Di saat rakyat butuh evakuasi cepat dan bantuan logistik yang menembus isolasi bencana pekan-pekan terakhir ini, Baguna justru sibuk mendengarkan ceramah soal “kearifan lokal” dan “persediaan SOS tiga hari”.
Arahan Megawati agar rakyat menyiapkan sandang pangan mandiri terdengar seperti pengakuan halus atas lambannya distribusi bantuan negara dan partai yang selama ini mengklaim “menangis dan tertawa bersama rakyat”.
Mitigasi Bukan Ajang Selebrasi
Keinginan PDI Perjuangan untuk meningkatkan kapasitas Baguna tentu patut diapresiasi secara organisatoris. Namun, menjadikannya sebuah panggung parade di tengah situasi darurat nasional adalah sebuah kegagalan komunikasi empati.
Bantuan tetap dibutuhkan, namun jika baru bergerak setelah seminar selesai dan seremoni usai, bantuan tersebut kehilangan esensi “daruratnya” dan berubah menjadi sekadar bantuan sosial biasa yang berbalut kepentingan citra politik. Rakyat tidak butuh melihat seberapa banyak mobil yang kalian miliki, mereka butuh tahu seberapa cepat mobil itu sampai di depan rumah mereka saat atap mereka runtuh.
Logistik yang Menjadi Beban, Bukan Solusi
Rencana pengiriman seluruh unit bantuan pasca-seminar juga dipertanyakan efektivitasnya. Dalam manajemen bencana, dikenal istilah Golden Hour, masa kritis di mana bantuan harus tiba dalam hitungan jam, bukan hari apalagi minggu.
Melatih relawan di saat “perang” sudah berkecamuk di lapangan ibarat melatih prajurit saat musuh sudah menduduki benteng. Pengiriman relawan yang masif namun tanpa koordinasi yang menyatu dengan otoritas lokal sering kali justru menambah beban logistik di daerah bencana.
Inspeksi armada oleh petinggi partai di atas mobil terbuka seolah menegaskan bahwa bantuan ini adalah tentang “siapa yang memberi” bukan “siapa yang menerima”. Publik kini jauh lebih cerdas, mereka lebih mengapresiasi kerja senyap organisasi kecil yang tiba di lokasi dua jam setelah bencana, ketimbang iring-iringan ambulans berstiker besar yang datang saat media sudah mulai kehilangan minat pada berita bencana tersebut.
Pamer Kekuatan yang Salah Momentum
Puncak ironi terjadi di akhir acara. Tri Rismaharini dan Ribka Tjiptaning tampak menaiki kendaraan terbuka, berparade menginspeksi deretan mobil laundry, dapur umum, dan tangki air yang berjejer rapi. Alih-alih berada di medan lumpur membantu korban yang kelaparan, armada-armada gagah ini justru “mejeng” di arena pacuan kuda yang mewah.
”Itulah PDI Perjuangan yang selalu menangis dan tertawa bersama rakyat,” klaim Ribka Tjiptaning.
Namun, bagi publik yang sedang berduka, klaim itu terasa seperti garam di atas luka.
Jika benar-benar ingin membantu, mengapa energi dan sumber daya sebesar itu tidak langsung dikerahkan ke titik-titik merah bencana sejak awal? Mengapa harus menunggu seremonial seminar untuk menunjukkan eksistensi?
Statistik yang Menjadi Sekadar Angka
Pangarso Suryotomo dari BNPB memang memuji Baguna sebagai mitra strategis. Namun, target “mengurangi jumlah korban” yang ia sampaikan terasa kontras dengan kenyataan lapangan. Mitigasi bukan hanya soal mengumpulkan pakar BRIN dan BMKG di sebuah seminar, melainkan soal keberadaan fisik relawan di detik-detik pertama bencana menghantam.
Indonesia tidak butuh lebih banyak seminar untuk tahu bahwa negeri ini rawan bencana. Indonesia butuh organisasi yang tidak menjadikan bencana sebagai panggung unjuk kekuatan atau etalase politik.
Rakyat tidak bisa kenyang hanya dengan melihat foto ambulans yang berparade, dan nyawa tidak bisa selamat lewat naskah kuno yang baru dibahas saat tanah sudah bergeser.
Jika PDI Perjuangan ingin benar-benar “bersama rakyat”, mungkin sudah saatnya berhenti berparade di Jakarta dan mulai berkubang lumpur di lokasi yang benar-benar membutuhkan, tanpa perlu menunggu kamera wartawan menyala di acara seminar.
Oleh: Kampret Sobo (Pemerhati Wayang Kontemporer)

