Opini

Ketika Kode Menjadi Hakim dan Penjara Bagi Jiwa Kontemporer

AKSINEWS.COM – ​Kita hidup di bawah jempol kaki raksasa tak terlihat. Sebuah rezim yang tidak punya wajah, tidak punya markas, tapi menguasai denyut nadi informasi, selera, bahkan, ironisnya, opini kita. Namanya Algoritma. Ia bukan sekadar kode matematis, kawan. Ia telah bermetamorfosis menjadi Tiran Algoritma, penguasa digital yang diam-diam mencetak cetakan sosial, menyaring realitas, dan perlahan memenjarakan kita dalam bilik gema (echo chamber) yang nyaman, sekaligus mematikan.

​Dulu, kita percaya internet adalah etalase dunia, tempat segala informasi berlimpah ruah. Sekarang? Setiap kali Anda membuka ponsel, Anda tidak melihat dunia. Anda melihat versi dunia yang telah disetujui oleh Algoritma.

​Sistem rekomendasi, entah itu di TikTok, YouTube, Instagram, atau platform berita, bekerja keras untuk menunjukkan apa yang Anda sukai, bukan apa yang perlu Anda tahu. Kedengarannya personal dan nyaman, bukan? Tapi itu adalah racun yang dibungkus madu.

​Ketika kita hanya disajikan informasi yang menguatkan prasangka dan pandangan kita (confirmation bias), kita akan makin jauh dari pandangan yang berbeda. Kubu “A” makin yakin “B” itu tolol, dan sebaliknya. Perdebatan publik macet. Ruang tengah hilang. Kita semua jadi pintar, tapi hanya pintar di dalam bilik gema kita sendiri.

​Algoritma, dengan dalih “interaksi dan engagement”, secara efektif telah memisahkan kita menjadi pulau-pulau sunyi yang saling berteriak tanpa pernah benar-benar mendengarkan.

​​Tiran Algoritma bukan hanya urusan feed Instagram. Dampaknya jauh lebih mendalam, merasuk ke sektor-sektor krusial masyarakat, seperti rekrutmen kerja, pemberian pinjaman, bahkan sistem peradilan.

​Ketika sebuah perusahaan menggunakan AI untuk menyaring resume calon karyawan, jika AI tersebut dilatih dengan data historis yang bias (misalnya, data yang menunjukkan bahwa mayoritas manajer adalah laki-laki), maka AI itu akan secara otomatis mendiskriminasi pelamar perempuan atau kelompok minoritas lainnya.

​​Algoritma tidak “netral”. Ia adalah cerminan dari data yang ia makan. Jika data historis kita penuh dengan ketidakadilan, maka Algoritma hanya akan mengotomatisasi dan menskala ketidakadilan itu, membuatnya lebih efisien, lebih cepat, dan yang paling mengerikan, lebih sulit untuk digugat karena ia terbungkus dalam jubah “objektivitas matematis”. Di tangan Tiran, diskriminasi menjadi bug yang dilegalkan.

Tujuan utama Algoritma bukanlah memberikan informasi terbaik, melainkan memaksimalkan waktu Anda di platform.

​Ia dirancang untuk membuat Anda kecanduan. Notifikasi yang membuat kita gelisah, scroll tak berujung yang membuat dopamin kita terpicu, konten yang makin ekstrem dan emosional karena konten semacam itulah yang paling engaging.

​​Kita diajari untuk terus-menerus mencari validasi eksternal (likes, komentar) dan merasa cemas jika tidak up-to-date. Kehendak bebas kita, kemampuan untuk memilih kapan fokus, kapan istirahat, dan apa yang kita baca telah dijarah. Kita bukan lagi konsumen, melainkan produk yang terus-menerus dioptimalkan untuk menghasilkan klik dan data.

​Apa yang harus kita lakukan di hadapan Tiran yang begitu perkasa? Perlu disadari, Algoritma tidak bisa “dimatikan” sepenuhnya. Digitalisasi sudah terlanjur menjadi tulang punggung peradaban.

​Jawabannya adalah kesadaran kolektif dan pencarian otonomi digital. Sadari bahwa setiap rekomendasi yang muncul adalah hasil manipulasi. Secara sadar, cari informasi di luar feed Anda. Ikuti orang-orang yang Anda yakini akan menantang pandangan Anda. Jadikan searching sebagai kebiasaan, bukan hanya scrolling.

​Pengembang dan pemilik platform harus bertanggung jawab. Kita harus menuntut adanya audit independen terhadap Algoritma yang dipakai di sektor publik (pendidikan, hukum, pemerintahan) untuk memastikan ia tidak mengabadikan bias. Tentukan batasan layar yang ketat. Gunakan platform sebagai alat, bukan sebagai rumah. ​

Tiran Algoritma mungkin telah menjerat kita. Tapi kita lupa, kode dan data itu dibuat oleh manusia. Tiran ini tidak punya hati, tapi ia bisa kita kendalikan dengan kehendak kolektif yang sehat dan keterlibatan yang kritis. Jika tidak, kita akan terus menari di atas panggung yang desainnya sudah ditentukan, dan mengira itu adalah kebebasan.

​Salam Kampret! Mari jadi manusia memilih yang bukan disajikan.

Oleh: Kampret Sobo (Pemerhati Wayang Kontemporer)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *