Ketika Gen Z Kehilangan Koneksi Panutan NU
AKSINEWS.COM – Pergulatan kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU), organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, tak hanya menjadi isu internal elite politik dan ulama sepuh. Jauh di balik layar yang sarat intrik, terdapat keresahan mendalam yang dirasakan oleh Generasi Zeta (Gen Z), yang kini melihat kisruh tersebut sebagai hilangnya sosok ‘Wali’ (panutan sejati) di era digital.
Melalui lensa wayang kontemporer, di mana panggungnya adalah linimasa media sosial dan dalangnya adalah influencer politik, konflik internal NU diibaratkan sebagai perebutan “Pusaka Khittah 2.0” yang terancam corrupted.
Ambisi dan Update Sistem yang Berisik
Konflik memuncak antara kubu “Tradisi Analog” yang ingin mempertahankan NU murni dari politik, dan kubu “Modern Digital” yang menjanjikan upgrade organisasi ke panggung global. Kedua kubu, yang kini sibuk saling kritik dan unjuk kekuatan di ruang publik, dinilai telah mengabaikan janji suci organisasi untuk fokus pada kemaslahatan umat.
Dulu, suara Kiai adalah ‘notifikasi’ kebenaran. Sekarang, setiap Gus punya ‘centang biru’ sendiri, beradu argumen di kolom komentar, dan bahkan saling ‘blokir.’ Mana yang harus di ‘follow’?
Kritik tajam Gen Z berakar pada observasi mereka bahwa ulama dan tokoh NU yang seharusnya menjadi ‘Guru Sejati’ kini lebih mirip ‘Influencer’ yang sibuk dengan kepentingan elektabilitas dan endorsement politik.
Identitas keagamaan yang dulu kuat sebagai penyeimbang politik kini terkesan menjadi alat pemenangan.
Keresahan Gen Z yang dalam metafora ini diibaratkan sebagai ‘Wayang Transparan’ ada namun sering tidak terlihat, mengungkapkan gap antara ajaran luhur dan praktik elite. Mereka adalah generasi yang cerdas secara digital, namun ironisnya, merasa ‘Lost Connection’ terhadap nilai-nilai spiritual sejati.
Gen Z merasa kehilangan otoritas moral. Banyak tokoh yang mereka panuti kini terlihat memihak secara terang-terangan, menjadikan agama sebagai content politik yang dangkal.
Ketika mereka menyuarakan kritik terhadap elite NU yang berpolitik, mereka sering dicap durhaka atau kurang ngaji oleh senior, diminta untuk ‘mute’ kritik demi menjaga keharmonisan semu.
Merujuk pada minimnya keteladanan dari pimpinan di tengah sengkarut masalah, Padepokan ini seperti kapal besar yang karam karena kaptennya sibuk berkelahi, sementara para penumpang, hanya bisa melihat badai lewat layar kaca.
Tuntutan Reboot Hati Nurani
Dalam sebuah tindakan simbolis, keresahan Gen Z itu terangkum dalam sebuah tuntutan tak terucap ‘Permintaan Reboot Hati Nurani’.
Mereka tidak lagi menuntut siapa yang harus menang dalam kontestasi, melainkan menuntut para tokoh NU untuk menjauhi ‘Goro-Goro’
(kekacauan) politik dan kembali menjadi ‘Wali’ spiritual sebagai panutan yang membersihkan dirinya dari kepentingan praktis.
Jika konflik terus berlanjut, kekhawatiran terbesar adalah bahwa NU akan bertransformasi menjadi sekadar ‘Ormas Digital’ tanpa ruh, kehilangan daya tarik spiritualnya bagi Gen Z yang haus akan sosok teladan yang otentik.
Masa depan organisasi keumatan ini kini berada di ujung jari, menunggu apakah para tokoh senior akan memilih untuk ‘Scan’ ulang kode etik mereka dan memulai ‘Hijrah Digital’ sejati, atau terus ‘Scrolling’ di pusaran konflik yang tak berkesudahan.
Oleh: Kampret Sobo (Pemerhati Wayang Kontemporer)

