Ketika Gadget Menggantikan Guru (Sebuah Lakon Batin Sang Salik di Era Digital)
AKSINEWS.COM – Dunia kini bak panggung wayang raksasa. Dalang-nya adalah algoritma, dan gema suluknya adalah notifikasi. Kita, para Salik Modern penempuh jalan menuju Ilahi berlomba-lomba mengumpulkan Ilmu Awraq, pengetahuan yang tertulis di layar kaca.
Di genggaman, kita punya Kitab Digital, podcast Tasawuf lintas benua, hingga terjemahan seribu satu Hikmah. Kita merasa telah mengantongi seluruh “Peta Menuju Makrifat”, peta yang begitu terang, begitu rinci, laksana peta digital menuju surga.
Namun, mengapa hati ini terasa semakin beku? Mengapa ibadah, yang kita kuasai fikh dan filsafat-nya, terasa hampa, bagai gerak tanpa jiwa? Inilah dilema sang Arjuna di medan Kurusetra digital “Kita tahu banyak tentang Agama, tapi belum tentu mengenal Allah”.
Di hadapan Sang Salik Modern, terbentanglah samudra luas, yang disebut Suluk atau Thariqah. Ini bukan lagi perjalanan yang diukur dengan kecepatan membaca, melainkan kedalaman menyelam batin. Dan di lautan sunyi ini, ranjau, ilusi, dan tipuan halus dari Nafs (Ego) bersembunyi.
Sebuah peringatan keras hadir dari lisan para ulama sufi, sebuah Sabda Purna: “Barangsiapa yang belajar ilmu namun tidak berguru, maka gurunya adalah Setan.”
Sabda ini, yang sering disalahpahami sebagai ancaman, sesungguhnya adalah lambaian kasih. Ia adalah sebuah sirene di atas lautan informasi. Bukanlah ilmu itu sendiri yang sesat, melainkan Adab dan Pengalaman yang absen.
Kita mengenal dua jenis ilmu. Ilmu Awraq adalah ilmu yang bersumber dari buku, kuliah virtual, dan internet. Ia memberikan kerangka Syariat dan pemahaman filosofis. Kita tahu bagaimana berwudu, berapa rakaat salat, dan apa itu konsep fana’. Ilmu ini membuat kita tahu “APA”.
Sementara itu, Ilmu Adzwaq (Ilmu Rasa) adalah pengalaman batin, pemahaman mendalam yang diturunkan melalui praktik spiritual yang dibimbing. Adzwaq inilah yang mengubah ritual menjadi Kehadiran, mengubah kewajiban menjadi Kerinduan. Ilmu ini membuat kita mengerti “BAGAIMANA” dan “KENAPA”.
Sang Nakhoda Batin (Mursyid)
Di tengah badai teori dan banjir informasi, Sang Salik butuh Nakhoda seorang Mursyid. Seorang Mursyid (secara harfiah: “pemberi petunjuk”) adalah Jembatan sejati antara Awraq yang kita baca dan Adzwaq yang harus kita rasakan. Ia tidak hanya mengajarkan materi, tetapi memberikan dosis yang tepat sesuai kondisi batin penempuh jalannya.
Bayangkan hati kita adalah ladang yang ditumbuhi penyakit riya’, dengki, dan sombong. Kita bisa membaca buku panduan tentang cara mengobati penyakit hati, tetapi kita butuh Dokter Rohani untuk melakukan diagnosa yang tepat.
Hanya Sang Guru Rohani yang mampu mendeteksi penyakit hati yang tersembunyi, sesuatu yang tak akan pernah terungkap oleh tes online manapun. Ia memberikan resep Zikir dan Mujahadah dengan dosis yang tepat, sekaligus memonitor efek samping spiritual yang muncul.
Tanpa pengawasan Sang Guru, seorang Salik bisa saja merasa dirinya telah mencapai Makam Spiritual (derajat tinggi), padahal ia baru saja terjerembab ke jurang gelap ‘Ujub (kesombongan spiritual). Ia telah tersesat dalam ilusi cahaya yang diciptakan oleh egonya sendiri.
Mursyid memastikan kita tidak hanya berilmu, tetapi juga berasa. Agar shalat kita tidak hanya gerakan tubuh, tetapi getaran jiwa. Agar puasa kita tidak hanya menahan lapar, tetapi menahan diri dari segala bentuk keakuan.
Sungguh, kita sudah terlalu banyak mengunduh peta. Kini, saatnya mencari pemandu yang tahu jalan sunyi di dalamnya.
Bersambung…
Kampret Sobo (Pemerhati Wayang Kontemporer)

