Kekayaan Intelektual Jadi Aset Paling Strategis
AKSINEWS.COM – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, menegaskan bahwa kekayaan intelektual (KI) kini telah menjadi aset paling strategis dalam ekonomi modern. Pernyataan ini disampaikannya saat membuka acara Training of Trainers (ToT) Intellectual Property Valuation di Gedung BJ Habibie, Jakarta, pada Senin (3/11).
“KI adalah aset yang paling penting, dan di banyak kasus bisa menjadi modal utama dalam bisnis modern. Selain itu, KI juga menjadi indikator utama untuk menilai sejauh mana hasil riset kita dapat bertransformasi menjadi inovasi yang berdampak nyata,” kata Handoko, dilansir dari laman resmi BRIN.
Tantangan Valuasi dan Pentingnya Pelatihan
Handoko menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi, yaitu kesulitan dalam melakukan valuasi KI secara tepat dan profesional. “Kita sering menghadapi masalah ketika melakukan negosiasi lisensi atau kerja sama karena valuasi KI belum dilakukan dengan cara yang benar. Melalui pelatihan ini, para peserta akan mempelajari metode dan pendekatan yang lebih proper dalam menilai potensi finansial dan prospek masa depan dari aset intelektual,” ujarnya.
Valuasi KI bukan sekadar menilai nilai ekonomi saat ini, tetapi juga memproyeksikan potensi keuntungan di masa depan berdasarkan posisi strategis suatu inovasi. Proses ini memerlukan kemampuan analitis yang baik untuk mempertimbangkan peran KI dalam konteks negosiasi.
Indonesia Menuju Pusat Regional Kebijakan KI
BRIN berkomitmen menjadikan Indonesia sebagai pusat regional pengembangan kebijakan kekayaan intelektual (regional hub). “Kami berencana membahas lebih lanjut dengan WIPO pada Desember nanti tentang kemungkinan menjadikan Indonesia sebagai regional hub untuk pengembangan kebijakan KI di kawasan,” ungkapnya.
ToT menjadi momen bersejarah, merupakan yang pertama di kawasan Asia Tenggara, dirancang khusus untuk mencetak para pelatih dalam valuasi kekayaan intelektual. Peserta pelatihan berasal dari berbagai institusi, termasuk BRIN, universitas (UB, UI, UGM), DJKI, Pertamina, Heksa, dan sektor industri lainnya, sebagai langkah awal membangun kapasitas nasional.
Kolaborasi Berkelanjutan
Pelatihan akan menjadi bagian dari kolaborasi berkelanjutan antara BRIN, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), dan WIPO. Program ini diharapkan dapat melengkapi dan menguatkan fungsi yang sudah ada di DJKI untuk meningkatkan pemahaman dan manfaat ekonomi dari KI yang dimiliki masyarakat.
“Terima kasih kepada WIPO atas dukungan berkelanjutan, dan kepada para peserta, saya ucapkan selamat mengikuti pelatihan. Semoga ilmu yang diperoleh dapat ditularkan, karena ini adalah training of trainers, artinya anda semua adalah calon pelatih berikutnya,” pungkas Handoko.
red

