Kanselir Jerman Friedrich Merz: Rezim Iran Berada di Hari-Hari Terakhir
AKSINEWS.COM – Kanselir Jerman Friedrich Merz memberikan peringatan keras terhadap masa depan kepemimpinan di Teheran. Saat melakukan kunjungan resmi ke India pada Selasa, 13 Januari 2026, Merz menyatakan keyakinannya bahwa pemerintah Iran kemungkinan besar sedang memasuki masa-masa akhir kekuasaannya di tengah gelombang protes yang kian meluas.
Demonstrasi besar-besaran yang mengguncang Republik Islam tersebut pada mulanya dipicu oleh kemarahan warga atas kondisi ekonomi yang terus memburuk. Namun, aksi tersebut kini telah berkembang menjadi tuntutan terbuka untuk menggulingkan rezim ulama yang telah memegang kendali pemerintahan selama puluhan tahun.
Seperti dilaporkan CNBC Indonesia, dalam pernyataannya kepada media, Merz mempertanyakan legitimasi pemerintah Iran yang dinilai menggunakan cara-cara kekerasan dalam menghadapi rakyatnya sendiri. Ia berasumsi bahwa dunia saat ini sedang menyaksikan pekan-pekan terakhir dari rezim tersebut.
Menurut Merz, ketika sebuah kekuasaan hanya bisa dipertahankan melalui kekuatan senjata dan penindakan keras, maka secara esensi legitimasi pemerintah tersebut sudah berakhir karena rakyat telah bangkit melawan.
Menyikapi krisis yang terjadi, Merz menegaskan bahwa Jerman terus menjalin koordinasi intensif dengan Amerika Serikat serta sekutu di Eropa untuk memantau perkembangan situasi. Ia juga mendesak otoritas Iran agar segera menghentikan tindakan brutal terhadap para demonstran yang memperjuangkan hak-hak mereka.
Di sisi lain, isu hubungan dagang menjadi poin yang cukup sensitif dalam dinamika ini. Jerman berada di posisi yang dilematis setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan kebijakan tegas. Trump mengancam akan mengenakan tarif sebesar 25 persen terhadap perdagangan negara mana pun yang masih melakukan transaksi bisnis dengan Iran.
Meski menghadapi tekanan internasional dan berbagai pembatasan, Jerman hingga kini masih tercatat sebagai mitra dagang terpenting bagi Iran di kawasan Uni Eropa. Namun, volume perdagangan kedua negara terus menunjukkan tren penurunan yang signifikan.
Data dari kantor statistik federal Jerman mengungkapkan bahwa nilai ekspor Berlin ke Iran mengalami penurunan sekitar 25 persen menjadi kurang dari 871 juta euro atau setara dengan 14,37 triliun rupiah sepanjang sebelas bulan pertama tahun 2025.
Nilai tersebut sebenarnya sangat kecil jika dibandingkan dengan total aktivitas ekonomi Jerman secara global, yakni hanya menyumbang kurang dari 0,1 persen dari keseluruhan total ekspor negara tersebut.
red

