Gaya Hidup dan Makanan Instan Jadi “Bom Waktu” Kanker di Indonesia
AKSINEWS.COM – Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, memberikan peringatan keras terkait tren pengidap kanker di Indonesia yang terus merangkak naik. Perubahan gaya hidup dari yang serba alami menuju serba instan ditengarai menjadi dalang utama di balik fenomena ini.
Satu hal yang paling disayangkan oleh Prof. Aru adalah fakta bahwa mayoritas pasien baru datang ke meja dokter saat kanker sudah memasuki stadium lanjut. Padahal, jika terdeteksi sejak dini, kanker memiliki peluang sangat besar untuk bisa disembuhkan secara total.
Keterlambatan deteksi bukan hanya soal taruhan nyawa, tapi juga beban ekonomi. Prof. Aru menjelaskan bahwa meski BPJS Kesehatan menanggung pengobatan kanker, terdapat jenis obat-obatan tertentu pada stadium lanjut yang tidak masuk dalam cakupan layanan.
”Kondisi ini membuat banyak pejuang kanker harus menguras penghasilan mereka. Itulah mengapa edukasi menjadi solusi paling tepat agar masyarakat sadar pentingnya pencegahan,” ungkap Prof. Aru, dikutip dari detikcom.
Prof. Aru menegaskan bahwa faktor keturunan hanya menyumbang sekitar 10 persen kasus. Selebihnya, atau sekitar 90 persen, dipicu oleh faktor lingkungan dan pola hidup yang tidak sehat.
Salah satu yang menjadi perhatian serius adalah meningkatnya konsumsi Ultra Processed Food (UPF) atau makanan olahan pabrikan, seperti sosis dan daging olahan lainnya. Menurutnya, proses pengolahan yang panjang dengan tambahan zat seperti nitrat dan nitrit telah terbukti secara klinis meningkatkan risiko kanker.
Prof. Aru memaparkan bahwa kanker tidak muncul secara instan. Butuh waktu 5 hingga 20 tahun bagi tumor untuk terbentuk. Bahkan, saat sebuah benjolan mulai teraba, proses pembelahan sel abnormal kemungkinan sudah terjadi sejak 10 hingga 15 tahun sebelumnya akibat paparan zat karsinogen yang terus-menerus.
Dampak dari pola makan industri ini mulai terlihat pada kasus kanker usus besar. Jika di negara Barat jumlah penderita kanker usus di bawah usia 40 tahun hanya sekitar 10 persen, di Indonesia angkanya melonjak drastis hingga mencapai 30 persen.
”Sekarang hampir semuanya bersifat industri. Lingkungan sudah rusak sejak awal, mulai dari cara makan hingga gaya hidup. Siap-siap saja kanker 20 tahun lagi, terutama pada anak-anak yang sekarang hobi makan daging olahan,” tegasnya menutup peringatan tersebut. (red)

