EDITORIAL: Menakar Nasib Stabilitas Indonesia di Antara Trump dan Iran
AKSINEWS.COM – Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara terkoordinasi oleh Amerika Serikat dan Israel pada hari ini 1 Maret 2026, telah mengirimkan gelombang kejut ke seluruh dunia. Di tengah duka mendalam dan kemarahan yang meluap di Teheran, mata publik Indonesia kini tertuju pada Jakarta.
Apakah gejolak di Timur Tengah ini, yang bersinggungan langsung dengan kepentingan ekonomi Indonesia lewat perjanjian dagang terbaru antara Presiden Prabowo Subianto dan Donald Trump, akan meruntuhkan stabilitas keamanan domestik kita?
Secara geopolitik, wafatnya Khamenei bukan sekadar hilangnya seorang pemimpin, melainkan runtuhnya pilar utama poros perlawanan terhadap Barat. Langkah agresif Donald Trump yang mengonfirmasi keterlibatan AS dalam operasi ini menunjukkan kembalinya kebijakan luar negeri yang keras dan tanpa kompromi.
Hanya beberapa pekan sebelum peristiwa ini, Presiden Prabowo baru saja menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) di Washington DC. Perjanjian ini merupakan keberhasilan ekonomi besar bagi Indonesia, yang membuka akses pasar 0% bagi komoditas unggulan seperti sawit dan tekstil, namun kini ia berubah menjadi pedang bermata dua dalam konteks diplomasi. Kaitan antara kemesraan ekonomi Jakarta-Washington dengan eskalasi militer di Iran menciptakan risiko persepsi yang sensitif di dalam negeri.
Indonesia memiliki populasi Muslim yang besar dengan rasa solidaritas yang kuat terhadap isu-isu ketidakadilan di dunia Islam. Jika pemerintah tidak hati-hati dalam memosisikan diri, kedekatan ekonomi dengan pemerintahan Trump bisa dipandang sebagai bentuk “restu” diam-diam terhadap tindakan militer AS. Hal ini berpotensi memicu gelombang protes massa atau aksi boikot yang dapat mengganggu ketertiban umum dan stabilitas keamanan nasional.
Namun, di bawah kepemimpinan Prabowo, Indonesia tampaknya tetap memegang teguh prinsip politik luar negeri bebas aktif. Meskipun terikat perjanjian dagang bernilai miliaran dolar dengan AS, Jakarta tetap menyerukan two-state solution dan perdamaian di kawasan tersebut.
Stabilitas keamanan Indonesia sebenarnya lebih rentan terhadap dampak ekonomi tidak langsung daripada konflik fisik. Lonjakan harga minyak dunia akibat penutupan Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran adalah ancaman nyata bagi APBN kita. Jika harga BBM meroket, keresahan sosial akibat inflasi menjadi jauh lebih berbahaya bagi stabilitas nasional dibandingkan sentimen ideologis semata.
Pada akhirnya, stabilitas keamanan Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara “perut” dan “prinsip”. Perjanjian dagang dengan Trump adalah mesin pertumbuhan ekonomi yang dibutuhkan, namun diplomasi yang luwes di panggung internasional tetap diperlukan untuk meredam potensi radikalisme atau perpecahan di dalam negeri akibat krisis Iran.
Indonesia tidak sedang memihak, ia sedang bertahan di tengah badai besar sambil memastikan kepentingan nasionalnya tetap tegak di atas segalanya. (red)
“This article was produced with assistance from generative AI and edited by AKSINEWS.COM staff.”

