EDITORIAL: Blunder “Hak Merdeka” dan Domino Eskalasi di Timur Tengah
AKSINEWS.COM – Panggung diplomasi internasional tidak pernah mengenal kata “kebetulan.” Ketika Presiden Prabowo Subianto melontarkan pernyataan bahwa Israel memiliki hak untuk merdeka dan hidup tenang, banyak pihak melihatnya sebagai upaya pragmatisme politik atau sekadar basa-basi diplomatik.
Hanya dalam hitungan minggu, lanskap geopolitik berubah drastis, agresi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke jantung Iran yang berujung pada gugurnya Ayatollah Ali Khamenei. Rentetan peristiwa ini memaksa kita bertanya, apakah pernyataan tersebut merupakan bentuk kedaulatan sikap, atau justru sebuah blunder strategis yang menempatkan Indonesia di sisi sejarah yang keliru?
Pernyataan mengenai “hak merdeka” bagi Israel bukanlah kalimat ringan. Dalam konteks konstitusi Indonesia yang dengan tegas menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, pengakuan terhadap entitas yang sedang melakukan pendudukan sistematis di Palestina adalah sebuah anomali.
Bahaya utama dari statement ini adalah hilangnya legitimasi moral Indonesia sebagai pemimpin gerakan non-blok dan pembela hak-hak bangsa tertindas. Saat presiden memberikan legitimasi verbal, secara tidak langsung kita memberikan “cek kosong” bagi Israel untuk melanjutkan tindakannya dengan dalih keamanan dan kedaulatan.
Serangan terhadap Iran dan pembunuhan pemimpin tertingginya bukanlah peristiwa isolasi. Ini adalah puncak dari upaya hegemoni di kawasan tersebut. Pertanyaannya, mengapa pernyataan Prabowo menjadi krusial dalam lini masa ini?
Pernyataan tersebut bisa dibaca oleh poros Washington-Tel Aviv sebagai tanda bahwa Indonesia negara Muslim terbesar dunia mulai melunak. Ini memberikan ruang bernapas bagi mereka untuk melakukan aksi militer ekstrem tanpa khawatir akan tekanan diplomatik yang signifikan dari Jakarta.
Ketika pemimpin tertinggi Iran terbunuh, stabilitas kawasan hancur. Dengan “mendahului” peristiwa ini melalui statement yang pro-status quo Israel, Indonesia seolah terseret dalam narasi Barat yang membenarkan agresi atas nama stabilitas.
Mungkin ada argumen bahwa ini adalah bagian dari taktik ekonomi atau upaya menarik investasi. Namun, kebijakan luar negeri tidak boleh dibangun di atas pasir hisap. Mengaitkan hak kemerdekaan Israel tepat sebelum mereka melakukan serangan yang menggoncang stabilitas dunia adalah sebuah risiko reputasi yang mahal.
Indonesia kini berada di persimpangan jalan. Jika kita terus memvalidasi narasi pihak yang sedang melakukan agresi, kita tidak hanya mengkhianati amanat Pembukaan UUD 1945, tetapi juga kehilangan kursi di meja perundingan sebagai penengah yang jujur.
Tragedi di Iran harus menjadi alarm bagi pemerintah. Diplomasi bukan sekadar kata-kata manis di forum internasional, setiap silabel memiliki konsekuensi geopolitik yang nyata.
Pernyataan Presiden Prabowo, sengaja atau tidak, telah menjadi bagian dari narasi global yang justru menjauhkan dunia dari perdamaian yang adil. Kini, tantangannya adalah bagaimana Indonesia bisa kembali ke jalur diplomasi yang berwibawa tanpa harus menjadi “pemandu sorak” bagi kekuatan besar. (red)
“This article was produced with assistance from generative AI and edited by AKSINEWS.COM staff.”

