Negosiasi Israel dan Lebanon di Bawah Bayang-Bayang Perang
AKSINEWS.COM – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara resmi menginstruksikan jajaran menterinya untuk segera memulai negosiasi perdamaian langsung dengan Lebanon. Keputusan ini disampaikan pada hari Kamis, hanya berselang satu hari setelah serangan udara besar-besaran Israel yang menewaskan 303 orang di Lebanon, sebuah tragedi yang dijuluki penduduk setempat sebagai “pembantaian Rabu kelam”.
Netanyahu menyatakan bahwa langkah ini diambil sebagai respons atas permintaan berulang dari pihak Lebanon untuk membuka jalur dialog. Fokus utama dalam perundingan ini nantinya adalah pelucutan senjata Hizbullah dan upaya membangun hubungan damai antara kedua negara. Israel telah menunjuk Duta Besar mereka untuk Washington, Yechiel Leiter, sebagai pemimpin delegasi.
Meski Lebanon belum memberikan konfirmasi resmi mengenai perwakilan mereka, laporan media lokal menyebutkan nama Duta Besar Lebanon untuk Washington, Nada Mouawad, atau mantan Duta Besar Simon Karam sebagai kandidat kuat pemimpin delegasi. Langkah ini dianggap bersejarah karena kedua negara tidak pernah memiliki hubungan diplomatik formal selama 78 tahun berdirinya Israel.
Namun, jalan menuju perdamaian masih dipenuhi ketegangan. Israel dengan tegas menolak untuk menghentikan pemboman selama proses pembicaraan berlangsung. Pejabat Zionis menyatakan bahwa negosiasi akan tetap dilakukan “di bawah tembakan”. Di sisi lain, Beirut terus mendesak adanya gencatan senjata sebagai syarat mutlak sebelum negosiasi dimulai.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa mereka akan memfasilitasi pertemuan awal tingkat duta besar di Washington pada pekan depan. Pertemuan ini dilakukan di tengah dinamika regional yang kompleks, menyusul pembukaan dialog antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan. Meski sempat muncul kabar mengenai gencatan senjata wilayah yang mencakup Lebanon, hal tersebut dibantah oleh Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump.
Internal Lebanon sendiri masih terpecah. Anggota parlemen dari Hizbullah, Ali Fayyad, menegaskan penolakan kelompoknya terhadap negosiasi langsung dengan Israel. Ia menuntut pemerintah Lebanon memprioritaskan penarikan pasukan Israel dari wilayah mereka serta pemulangan para pengungsi. Kontras dengan hal tersebut, Presiden Lebanon Joseph Aoun justru menyebut negosiasi langsung adalah “satu-satunya solusi” untuk mengatasi krisis mendalam yang melanda negaranya.
Situasi kemanusiaan di Lebanon saat ini berada pada titik kritis. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon, jumlah korban tewas akibat serangan pada hari Rabu telah mencapai 303 jiwa dengan ribuan lainnya luka-luka. Secara total, sejak agresi yang bermula pada 2 Maret, tercatat sebanyak 1.888 orang telah gugur dan lebih dari enam ribu warga mengalami luka-luka akibat konflik yang telah berlangsung selama enam minggu ini. (red)

